05 April 2008

WHERE'S MY SECOND CHANCE?

Banyak yang bilang pasti datang kesempatan kedua. Itulah kesempata yang baik untuk memperbaiki semua kesalahan ataupun kegagalan yang pernah ada. Menurutku kesempatan kedua tidak selalu ada. Kenapa terjadi demikian? Ya...setelah beberapa kali mengalami kegagalan dan kesalahan, beberapa tahun ini sepertinya tidak ada lagi kesempatan kedua untuk menjadikannya sebuah perbaikan.

Ketika harus berhadapan dengan Interogasi macam kriminal, tidak ada lagi kata "second chance" untuk memperbaikinya. Yang ada hanyalah mengikuti alur dari setiap pertanyaan dalam Berita Acara Pidana yang terus..terus..saja diulang-ulang ditanyakan, yang sebenarnya bukan tersangka menjadi seorang tersangka, yang aku katakan tidak menjadi iya, yang iya menjadi tidak. Tidak ada lagi pembelaan untuk paling tidak menjadikanku manusia yang beralasan karena telah melakukan satu kesalahan itu. Bagaimana aku mendapatkan hak untuk menyampaikan alasan dan pembelaan waktu itu seakan-akan hanya mimpi saja. Ancaman demi ancaman masuk bertubi-tubi dan menjadikanku tikus got yang sudah terpojok siap untuk dibantai, dibakar dan dijadikan makanan kucing.

Sebuah kesempatan untuk membela menjadi sebuah mimpi saja. Yang terlintas di kepala hanya rasa takut, bingung, frustasi, depresi dan ruangan sel yang seakan terus saja menjadi momok yang menakutkan. Bagaimana tidak, jika kamu dihadapkan pada kehidupan yang tidak ada seorangpun yang membantumu, sementara kamu berada dalam posisi terancam menjadi soreng kriminal dan dijebloskan ke penjara.

Lalu dimana kawan-kawan? Diamana peran keluarga? Atau paling tidak para sahabat yang aku gungkan melebihi status keluargaku?
Ya...itulah kehidupan nyata. Semua yang kalian agung-agungkan sebagai keluarga, teman, atau keluarga baru belum tentu bisa menjadi pegangan yang siap membantu kalian. Itulah yang aku hadapi saat itu. Sebuah kenyataan yang sulit diterima dimana aku sedang membutuhkan pertolongan, membutuhkan support dan semangat, mereka semua menghilang seperti halnya hantu. Saat itu anggapanku mereka seperti tidak ada. OMONG KOSONG tentang suka dan duka bersama, OMONG KOSONG saling membantu dan tolong menolong.

Memang tidak semua anggapanku benar, hanya mungkin dengan prosentase kecil yang aku katakan semua ini. Tapi posisiku memang berada dalam prosentase terkecil itu. Posisi terkecil dimana aku diletakkan pada posisi terujung sebuah pisau tajam.
Mungkin anggapan kalian berbeda dengan apa yang ada di kepalaku. Tapi aku percaya jika kalian berada dalam posisiku pasti juga akan berpikir demikian. Jika kalian mengalami apa yang aku alami saat itu maka aku rasa pemikiran kalian juga sama.

Kesempatan kedua itu tidak pernah datang lagi, ketika aku ingin memperbaiki hubungan dengan kekasihku, yang sempat bermasalah dengan orang tuanya. Anggapan bahwa aku berandal dan aku biang masalah menjadikan halangan untuk menjalin hubungan dengannya. Klaim buruk yang sudah menempel dan terus menjadi image untukku dari SMU sulit untuk dihilangkan. Berulang kali harus berhadapan dengan apa yang namanya POLISI, keluar masuk sekolah karena masalah yang sebenarnya konyol dan sama terus-menerus, berulang kali menjadi omongan dan gosip buruk mulai dari mulut ke mulut ibu-ibu PKK sampai orang yang belum pernah aku kenal bisa membicarakan keburukanku. Wew...belum tahu faktanya sudah main hakim klaim orang lain...payah. Image citra buruk menjadikanku halangan untuk memperbaikinya, karena sekeras dan sekencang bagaimanapun usahaku untuk berbuat baik dan merubah citra burukku menjadi baik akan tetap sama saja, dan tidak akan membuatnya berubah.

Dan pada akhirnya aku harus angkat kaki dari rumah, dimana orang rumah tidak lagi mau menerimaku. Mungkin bosan dengan tingkahku yang selalu mempermalukan mereka di muka umum. baik langsung ataupun tidak. Sesepuh rumah telah mengusirkusecara halus. Kamar kesayanganku yang banyak meninggalkan memori dengan teman-temanku, ganja hingga bersetubuh dengan kekasihku sekarang dikunci rapat. Ruang keluarga yang sempat menjadi kamar umumku sudah menjadi ruang jagal bagiku. Dan memang aku harus angkat kaki dari rumah. Halus tapi mengena dalam otak. Aku harus memulainya lagi dari nol, diluar lagi, dijalanan lagi, dan harus memeras keringatku sendiri jika aku ingin makan dan mencari tempat tinggal.

Terkadang tidak mampu bertahan sendiri, butuh dukungan dari orang yang sangat aku kagumi. Ibuku yang selalu setiap waktu memberiku dorongan dan motivasi, meski terkadang juga tidak jauh dari bentrok pemikiran hingga debat yang berakhir dengan pertengkaran seperti MC Battle saja. Sehebat apapun pertengkaran itu aku tidak pernah membenci ibuku, aku tidak pernah lagi menyalahkan ibuku atas perceraiannya dengan bapakku. Memang takdir tidak bisa dilawan. Dialah yang mempertahankanku saat tidak ada seorang laki-laki yang pada surat nikah tertera menjadi bapakku dan suami dari ibuku. Dialah yang menyusuiku ketika tidak ada sepeserpun uang untuk membeli makanan bayi.Dialah yang mengajariku bagaimana menghadapi hidup dan bertahan. Dialah yang mengajariku bagaimana bertanya dan menjawab dengan benar dan kebenaran. Dialah yang menjadi tonggak besar pegangan hidupku dan menjadi panutanku dari aku bayi hingga sekarang.

Kesempatan kedua, mungkin kali ini datang tapi tidak begitu nyata. Seorang teman lama menawaiku pekerjaan, menjadi seorang designer grafis dan web design. Sebuah pekerjaan yang memang aku impikan dari dulu. Kali ini aku aku mencoba berjuang sendiri, bagaimanapun caranya untuk bisa makan dan membayar iuran kos per tiga bulan sekali. Meskipun tidak selamanya lancar, tapi harus dinikmati dan dijalani. Hidup terus berlanjut dan harus terus mengepalkan tangan untuk melawannya.

AKU TIDAK BISA MELAWAN TAKDIRKU, TAPI AKU BISA MENGUBAH TAKDIRKU.


---to be continued---

1 komentar:

Anonim mengatakan...

agil

mampir yiaa :D